23.11.15

tumpang sari [vila dengan hutan].

studio akanoma.
vila tumpang sari belitung.
status: proposal.
tim desain: yu sing, benyamin narkan, ismail solehudin.
tim mahasiswa magang: vidya.
luas lahan: 2,87 hektar.
jumlah vila: 53.

Vila didesain menyatu dengan hutan. Lahan ditanami aneka pohon kayu dan buah-buahan yang tahan puluhan tahun. Proses menghutankan lahan menjadi pernyataan kuat sejak awal, bahwa rangkaian fasilitas ekowisata (lihat tumpang sari hotel dengan kebun) ini mengupayakan keharmonisan antara kepentingan ekonomi dengan kelestarian alam dan budaya. Baik juga bila pengembang lain mengikuti dengan membuat hutan juga, maka lingkungan alam Belitung akan makin lestari. Namun bila yang lain tidak ikut, maka vila hutan ini akan menjadi oase dan semakin bernilai tinggi.
Mengapa hutan?
Fungsi vila membutuhkan tingkat privasi yang tinggi, perlu jarak antar satu vila dengan lainnya, dan relatif tidak padat. Hutan menjadi pilihan yang tepat dalam membuat vila yang inspiratif. Berbeda dengan vila yang dibangun di dalam hutan, di sini justru lahan terbuka ditanami banyak pohon, dihutankan, bersama-sama dengan pembangunan vila. Secara filosofis, manusia bukan puncak ekosistem, penentu utama paling tinggi, tetapi menjadi bagian dari ekosistem. Sikap yang menganggap manusia sebagai puncak penentu ekosistem, telah membuktikan kerusakan alam secara masif di seluruh dunia. Kerusakan kondisi bumi dan peningkatan suhu bumi saat ini telah membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi atas pentingnya kelestarian alam. 



Mungkinkah pertumbuhan ekonomi dilakukan seiring dengan upaya-upaya memperbaiki bumi, atau paling tidak menjaga kelestariannya ?

Mestinya, alam yang semakin lestari akan menjadi syarat utama bagi perkembangan eko wisata yang juga lestari dalam jangka panjang. Eko wisata yang lestari maka pertumbuhan ekonomi juga lestari. Berjalan beriringan.

Proses menghutankan.
Perlu waktu cukup lama agar pepohonan yang ditanam tumbuh besar dan suasana hutan dapat terbentuk. Paling tidak perlu sekitar 5 tahun agar tinggi (beberapa jenis) pepohonan dapat mencapai lebih dari 3 meter tingginya. Sementara pohon yang direncanakan belum tumbuh besar, di samping-sampingnya dapat ditanam pohon sementara yang cepat tinggi, baik perdu maupun pohon berkambium gabus. Pilihan pohon kayu dan buah-buahan yang dapat berusia puluhan tahun, dapat diutamakan berupa pohon-pohon endemik belitung juga beberapa pohon yang memang diperlukan, misal untuk mengusir nyamuk atau daun atau batangnya dapat digunakan sebagai pestisida organik. Tentu saja pepohonan eksisting yang telah cukup besar akan dipertahankan.


Selain itu juga tentu dapat ditanami aneka tumbuhan bunga, perdu, buah-buahan, rempah-rempah sebagai pembentuk suasana dan mendatangkan aneka kupu-kupu, capung dan burung yang indah dilihat serta serangga ekosistem lainnya. Demikian pula pada lahan hotel C1, pohon bunga dapat ditanam berdampingan dengan aneka pohon sayur dan rempah. Pohon bunga (tertentu) meningkatkan kandungan nitrogren tanah yang dibutuhkan sayuran dan mendatangkan serangga-serangga pemangsa hama tanaman sayur.

Gugusan massa dan lanskap.
Bangunan vila berupa panggung 2 lantai. Lantai 1 hanya teras terbuka dan sedikit ruang tangga tertutup. Teras terbuka menghadap kolam renang. Kursi santai dan atau kasur gantung di teras menjadi sangat menyenangkan untuk mengalami suasana hutan di bawah. Kamar di lantai 2. Akses jalan menuju vila juga melalui selasar kayu terbuka di lantai 2. 

Selasar kayu meliuk-liuk melewati rimbunnya dedaunan. Cahaya matahari menembus sela-sela daun. Pengalaman berjalan menuju vila semakin menarik ketika pepohonan sudah tinggi dan rimbun seperti berjalan-jalan di ketinggian di dalam hutan.

Tumpang sari vila dengan hutan diperkuat dengan gugusan vila yang ditata seperti dedaunan pada cabang-cabang batang pohon. Satu kelompok vila mengelilingi kolam renang dapat berjumlah 5, atau 7 vila. Di tengah lahan ada 4 bangunan spa dengan jacuzzi pada lantai puncaknya. Bangunan pelayanan diletakkan di atas area parkir berupa tiga massa kerucut. 
Lahan bagian depan yang berbatasan dengan pantai didesain sebagai restoran dan kafe. 1 bangunan dapur, 1 bangunan restoran, 3 bangunan kafe, 1 bangunan sirkulasi vertikal berupa miringan/ramp.
Restoran dan kafe didesain agak terpisah dengan gugusan vila, sehingga dapat menarik pengunjung umum yang tidak menginap di vila. Batas dengan vila berupa gugusan pohon yang cukup banyak dan rimbun sehingga vila masih cukup privasi dan suasananya tetap seperti di dalam hutan.


Restoran, kafe, dan warung.
Restoran dan kafe juga didesain panggung, fungsinya mulai lantai 2. Restoran cukup besar didesain 2 lantai (lantai 2 dan lantai 3). Sedangkan kafe relatif lebih kecil, ada 3 bangunan. Kafe untuk menjual makanan minuman yang tidak terlalu berat/mengenyangkan, sebagai tempat nongkrong sambil menikmati pantai dan matahari terbenam. Lantai 3 kafe didesain terbuka tanpa atap untuk suasana lebih santai. Malam hari bisa melihat bulan dan bintang.
Posisi pinggir pantai yang strategis merupakan tempat umum semua kalangan tanpa batas. Karena itu lantai 1 di bawah kafe dan restoran dapat didesain untuk gerobak-gerobak penjual makanan ala warung/kaki 5 yang relatif murah. Privasi kafe dan restoran tidak akan terganggu karena beda lantai. Pengunjung diberikan banyak pilihan tempat makan. 

Gerobak didesain rapi dan lingkungannya bersih dengan pengaturan yang tertib termasuk pengelolaan sampahnya. Salah 1 ruang di bawah kafe bahkan dapat juga difungsikan sebagai balai pernikahan sederhana. Multifungsi. Menikah di warung pinggir pantai. Ketika tidak ada pernikahan tetap berfungsi sebagai warung. Ketika ada pernikahan gerobak2 dapat dipindahkan sebentar. Suasana ruang meja kursi pinggir pantai ini bisa jadi latar tempat yang sangat menarik dan otentik bagi foto pernikahan. Dekorasi suasana jalanan pinggir pantai (ketika ada pernikahan) dapat membuat suasana warung, kafe, dan restoran ini menjadi meriah dan berganti-ganti.



8 april 2015
yu sing.




tumpang sari [hotel dengan kebun]

studio akanoma.
hotel tumpang sari belitung.
luas lahan:3,2 hektar.

jumlah kamar: 300 (bangunan 3 lantai).
status: proposal.
tim desain: yu sing, benyamin narkan, ismail solehudin, attip.
tim mahasiswa magang: vidya, elly, ary.



Pariwisata belitung belum terlalu ramai, potensi berkembangnya masih sangat banyak. Kecenderungan bisnis pariwisata meningkat terus seiring dengan makin banyak orang suka jalan dan foto-foto melalui telepon pintarnya. Bahkan volume bisnis wisata dunia sudah melebihi volume ekspor minyak, produksi makanan atau otomotif [united nations world tourism organization]. Wisata menjadi kesempatan tapi sekaligus ancaman.
Kehadiran pariwisata yang bersifat industri cenderung hanya mengutamakan nilai ekonomi tanpa pertimbangan kondisi alam, sosial, budaya. Beberapa degradasi akibat industri pariwisata dan pertumbuhan penduduk adalah berkurangnya lahan pertanian (indonesia hilang 100.000 hektar/tahun) juga berkurangnya ruang terbuka hijau secara signifikan (deforestasi indonesia sekitar 1 juta hektar/tahun).

Karena itu pendekatan eko wisata menjadi penting. Tumpang sari dipilih sebagai respon kecenderungan tersebut. Tumpang sari sesungguhnya adalah pola pertanaman campuran (polikultur) antara 2 atau lebih jenis tanaman pada satu areal tanam, dalam waktu (agak) bersamaan. Persoalan pangan global (akibat pertumbuhan penduduk, berkurangnya lahan pertanian secara signifikan, dan perubahan suhu bumi) mendorong konsep hotel ini mengadaptasi pola tanam tumpang sari. Sesungguhnya di seluruh lahan binaan (kecuali kondisi sangat khusus di tengah kota tertentu dengan GSB 0 dan KDB 100%) selalu ada persyaratan ruang terbuka hijau dan resapan. Namun ruang terbuka ini seringkali hanya dikelola (minimal) sebagai taman hias saja.



Hotel ini diharapkan jadi preseden bagaimana pilihan desain yang harmonis dengan alam juga dapat berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi. Lingkungan alam tetap lestari. Selangkah lebih maju, pengelolaan hotel juga berdampingan dengan pengelolaan kebun yang sungguh-sungguh. Hasil kebun dari hotel menjadi sumber pangan bagi pengunjung (restoran maupun umum).

Gugusan massa dan lanskap.
Lokasi pulau belitung membuat karakter pantai (barat) yang unik. Ombak tidak besar. Pasirnya putih, sebagian sangat halus, dan membentuk pola2 gelombang air pasang surut yang indah.


Pola dinamis yang berubah seiring waktu, tidak pernah sama persis. Lukisan alam yang sangat indah.
Pola pasir pantai ini menjadi inspirasi dalam menata massa hotel di pinggir pantai.
Massa hotel merupakan gugusan massa tipis berlekuk-lekuk saling tumpang tindih, membentuk ruang terbuka di tengah lahan. Ruang terbuka di tengah lahan difungsikan sebagai kolam renang yang juga dekat dengan kafe, salon dan spa. Massa ruang serba guna diletakkan di atas sebagian area parkir agar lahan menjadi efisien.


Area parkir diletakkan di samping barat lahan, berdekatan dengan area parkir lahan B. Di samping timur lahan tersedia jalan menerus sampai pantai untuk akses pelayanan hotel dan pemadam kebakaran dalam kondisi darurat.
Ruang-ruang terbuka hijau ditanami dengan konsep wanatani/agroforestri, yaitu budidaya tanaman kehutanan (pohon-pohon kayu lokal dan buah-buahan) bersama dengan tanaman pertanian (sayuran dan rempah-rempah). Tentu juga dipadukan dengan tanaman-tanaman fungsi lainnya seperti anti polutan, anti nyamuk, anti hama atau bunga-bungaan. 

Tumpang sari fasad hotel.
Penanaman sayuran dan rempah-rempah dapat dilakukan pada 3 area, yaitu pada ruang terbuka hijau (wanatani), di atas atap hotel, dan pada fasad hotel. Pada fasad hotel, sayur-sayuran ditanami pada pot-pot di sepanjang pagar selasar hotel. Dapat juga berupa tanaman rambat markisa atau bayam malabar rambat di kanopi selasar. Sedangkan di atap hotel dapat berupa hidroponik. (Tidak seluruh massa hotel beratap kebun. Sebagian hotel dan ruang serbaguna beratap daun nanga.) Sumber kompos dan pupuk organik didapatkan dari biodigester, salah 1 sistem pengolahan air limbah alami dari sampah organik dan atau air fekal/kotoran manusia.
Hama sayuran diatasi oleh pestisida organik yang dibuat sendiri dari aneka tumbuh-tumbuhan yang dapat ditanam juga di dalam hotel. Selain itu juga dengan penanaman tanaman yang dijauhi hama, seperti kenikir dan kemangi.

Gubahan massa.
Hotel didesain maksimal tiga lantai agar lebih ringan persyaratan antisipasi kebakarannya, sehingga biaya jauh lebih murah. Juga karena lokasinya di pinggir pantai, skala ruangnya masih nyaman, akrab, manusiawi bila maksimal hanya 4 lantai.
Tipologi hotel secara umum hampir sama akibat fungsi ruangnya yang sudah pasti. Pada hotel ini dipilih gabungan koridor tengah (double loaded corridor) dan koridor pinggir (single loaded corridor). Koridor tengah diaplikasikan pada kamar tipe A yang paling murah. Namun agar cahaya dan ventilasi alami masih dapat mengalir ke dalam koridor, maka dibuat bukaan2 pada ujung-ujung koridor dan atap kaca di atas koridor. Sebagian koridor berlantai kaca juga agar cahaya dari atap bisa menembus ke dalam ruang restoran di bawahnya.

Sedangkan pada tipe kamar lainnya B-D, dipilih koridor pinggir agar pemandangan lebih maksimal dari dalam kamar maupun koridor. Juga menambah jumlah luas bidang tanaman pada koridor. Pencahayaan dan ventilasi alami dapat maksimal. Kehadiran tanaman pada koridor juga memberikan kesejukan yang dapat mengurangi beban pendingin udara dalam kamar. Tamu hotel bisa lebih senang dan betah karena interaksi yang kuat dengan tanaman dan suasana alam. Hotel dengan suasana seperti resor/peristirahatan.
Selain tumpang sari tanaman pada fasad hotel (yang juga sudah mulai dilakukan orang lain), apa yang bisa membedakan hotel ini dengan hotel lainnya? Pengalaman berbeda tentu akan memberikan kesan yang kuat bagi tamu hotel untuk mau kembali. Juga memberikan dampak publikasi yang bagus. Bagaimana bila hotel sesedikit mungkin menutup tanah sehingga resapan air hujan semaksimal mungkin? Hotel diangkat dari tanah asli, tidak perlu ditambah timbunan tanah, tetapi dibuat seperti panggung. Lantai hotel melayang tidak menempel tanah.

Tidak berhenti sampai sana. Bagaimana kalau titik kolom yang menempel tanah sesedikit mungkin? Bukan dengan cara membuat kolom berjauhan dan balok membesar sehingga mahal, tetapi seperti pohon, setiap 1 kolom ada 4 cabang ke atas menjadi 4 kolom. Dan karena denah massa berlekuk-lekuk, mengapa tidak tampaknya pun berlekuk-lekuk? Koridor menjadi miringan ramp. Posisi kamar berundak. Idenya dari akar sebuah pohon yang indah di pinggir pantai sana.

Dan karena komposisi tapaknya, dapat penghasilkan kamar-kamar dengan pemandangan yang luar biasa. Selain juga hotelnya menjadi sangat menarik perhatian dari pantai. Di bawah massa hotel, banyak ruang terbuka yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan sebagai tempat bersantai menikmati udara pantai, atau tidur-tiduran sambil baca buku di dalam hammock/tempat tidur gantung dari kain.


Bale pernikahan.
Bale pernikahan didesain di atas spa, di bagian tengah lahan. Ada miringan/ramp melengkung naik ke bale pernikahan dari teras dekat kolam renang dan restoran. Bale pernikahan dikeliling kebun bunga dan sayuran atau rempah berbunga. Lantai betonnya (merupakan atap lobi salon & spa) melengkung naik ke atas sehingga kebun bunga menjadi latar belakang yang terlihat jelas dari bale pernikahan. Atapnya berbentuk daun pakai daun nanga. Seperti berteduh di bawah daun pisang di tengah kebun bunga. Dan bila ada pasangan menikah yang seru, bisa saja momen kebahagian dilanjutkan dengan flying fox nyemplung ke kolam renang di bawah. 
Pengolahan limbah.
Seluruh sampah organik dan air fekal (kotoran manusia) masuk ke dalam biodigester (reaktor biodigester dapat dipisahkan antara sampah organik dan air fekal). Biodigester mengolah sampah dan kotoran secara alami menjadi pupuk organik (padat dan cair) yang sangat melimpah dan biogas. Pupuk cair secara alami mengalir ke kolam ikan, kemudian otomatis meluap ke bak penampungan pupuk untuk digunakan secara berkala untuk kebun dan tanaman. Biogas dapat digunakan untuk memasak. Gas metan yang terbentuk dari air fekal bila terlepas ke udara memberikan dampak 21x lebih parah daripada co2 terhadap pemanasan bumi (efek rumah kaca). Pemanfaatan biogas (gas metan) sebagai bahan bakar menghilangkan pencemaran gas metan tersebut ke udara. Air kotor bekas pakai volumenya cukup banyak maka diusulkan untuk diolah secara mekanik.
Selain pengolahan limbah, akan semakin baik bila menambah sedikit anggaran konstruksi untuk membangun bak penampungan air hujan dan penjernihannya. Air hujan yang telah dijernihkan dapat digunakan untuk menyiram kebun sehari-hari bahkan sampai diminum, tergantung kadar penjernihannya.
Pengolahan (air) limbah dan sampah yang baik mendukung kelestarian ekosistem laut dan pariwisata belitung.

Desain sempat dikembangkan lebih lanjut agar dapat lebih efisien menampung jumlah kamar yang lebih banyak, tetapi pencahayaan dan ventilasi alami tetap dapat berfungsi dengan baik. Dalam pengembangan desain, bale pernikahan dipindahkan ke area pantai sisi utara dan satu lagi tambahan di sebelah selatan lahan di tepi rawa di seberang jalan. Pemindahan lokasi balai pernikahan dilakukan agar dalam penggunaannya tidak saling mengganggu antara tamu hotel dengan tamu pernikahan.


















09 maret 2015
yu sing | studio akanoma. 






tentang yu sing

yu Sing-arsitek |  Indonesia.


Yu Sing lahir di bandung, jawa barat, Indonesia pada tahun 1976, dan lulus S1 dari teknik arsitektur ITB pada tahun 1999. Yu Sing memulai karirnya sebagai arsitek sejak 1999, salah satu pendiri studio genesis dan pada tahun 2008 mendirikan akanoma (singkatan dari akar anomali). Akar anomali menegaskan komitmen studio untuk senantiasa berakar kepada konteks budaya, potensi, dan persoalan di Indonesia. Yu Sing percaya bahwa arsitektur harus dapat melayani semua kalangan tanpa batas. Karena itu, akanoma mulai membantu desain rumah murah dengan jasa desain murah, agar kalangan menengah ke bawah juga dapat menikmati rumah yang didesain dengan baik. Yu Sing juga menulis artikel di blog dan majalah, serta memberikan banyak workshop dan seminar di kampus dan komunitas di berbagai kota (Bandung, Yogyakarta, Solo, Jakarta, Pontianak, Semarang, Medan, Surabaya, Makassar, Malang, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, Kendari, Lampung, Pekanbaru, Jambi, Batam, Aceh) yang mengajak mahasiswa dan arsitek muda untuk melayani semua kalangan.
Ruang diskusi publik dengan masyarakat dapat dilakukan melalui blog, email, dan media sosial. Yu Sing juga menulis buku berjudul mimpi rumah murah pada tahun 2009. Pada tahun 2012 Yu Sing bersama Prima Rusdi dan Mandy Marahimin dengan crowd funding wujudkan.com menggagas proyek filantropi ‘papan untuk semua’ yang bergerak di bidang perumahan dan ruang publik untuk rakyat untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Yu Sing memberikan bengkel kerja/workshop arsitektur sebagai berikut:

1.     bengkel kerja desain rumah murah & kuliah tamu memasyarakatkan arsitektur, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 21-22 oktober 2009.
2.     les arsitektur pengembangan ruang publik dalam kampung kota [pamulang barat], Institut Teknologi Indonesia, 3-5 juni 2011.
3.     mAAN mentok tin mining city: ‘exile’ city as a process towards unique & specific ecotourism, mentok, pulau bangka, 20-28 july 2011.
4.     Joint design studio indonesia-japan 2011, design intervention for sensible high density urban kampung of megacities, Department of Architecture Faculty of Engineering University of Indonesia, Research Institute of Humanity and Nature (RIHN) Kyoto, Chiba University, The University of Tokyo, Tokyo University of Science, 08-18 September 2011.





Selain itu, yu sing juga menjadi juri beberapa sayembara desain arsitektur yang berhubungan dengan rumah murah dan perbaikan kampung sebagai berikut:

1.     Juri sayembara rumah rakyat 2009, studio habitat indonesia, 2009.

2.     Juri sayembara penataan kampung pinggir kali brantas malang, mahasiswa arsitektur rayon jawa timur, 2010.

3.     Juri sayembara rumah murah sehat, seri rumah ide & gramedia pustaka utama, 2010.

4.     Juri sayembara desain rumah tinggal di kampung kota ‘housing solution for a better living at pademangan’, universitas trisakti,  2010.

5.     Juri sayembara balai perkumpulan warga kampung layur semarang, universitas katolik soegiyapranata semarang, 2011.
6.     sayembara rumah tropis nusantara di kampung kota, universitas brawijaya malang, 2011.
7.     Juri laras award 2012 (in absentia).
8.     Juri sayembara penataan pedagang kaki lima di monumen perjuangan jawa barat bandung, universitas parahyangan, 2015.
Penghargaan

2015
  • Pemenang 3 Citation Of Excellent Architectural Design Reflecting East Asian Identity untuk karya wikasatrian (wika leadership centre).
  • Pemenang 1 holcim awards indonesia 2015 for sustainable construction untuk karya ocean of life indonesia, watu kodok, gunung kidul, yogyakarta.
  • Pemenang 2 sayembara propan desa wisata nusantara untuk konsep strategi desa wisata sembalun lawang, lombok, NTB.
  • Tempo property award (hunian ramah lingkungan) untuk 3 karya, yaitu: perumahan taman tengah griya mitra insani 2 cibubur, rumah puzzle jakarta barat, rumah panggung kelapa gading jakarta utara.

2012
  • pemenang 1 sayembara terbatas (undangan) wikasatrian (WIKA Leadership Center), pasir angin, gadog, bogor.
2011
  • pemenang ke 4 sayembara stasiun riset orang utan kalimantan di kalimantan barat.
2010
  • pemenang 3 sayembara internasional FuturArc Prize 2010 (a PROTOYPE for ecological living): oasis social housing.
2009
  • pemenang utama holcim award indonesia 2009 for sustainable construction untuk caringin family ‘village’ improvement.
  • pemenang 1 sayembara gedung pusat pelayanan akademik universitas negeri makassar, menara pinisi.
  • pemenang 1 sayembara tanpa hadiah (www.rujak.org) , co-housing : 1 rumah untuk 4 keluarga kalangan menengah.
2008
  • pemenang 5 sayembara rumah sakit akademik ugm yogyakarta.
  • pemenang 3 sayembara desain muka dan interior galeri indogress, tangerang.
2007
  • finalis sayembara terbatas sekolah internasional bpk penabur banda, bandung.
  • pemenang 6 sayembara taman borobudur jakarta bersama oky kusprianto.
  • pemenang 1 sayembara desain muka jakarta design centre.
  • top 10 sayembara fasade rumah ide.
2006
  • pemenang 3 lomba desain taman rakyat cimahi.

2004
  • pemenang 1 sayembara terbatas tk internasional bpk penabur bahureksa, bandung.
  • pemenang 2 sayembara terbatas sekolah internasional bpk penabur singgasana pradana, bandung.
1999

  • pemenang 1 sayembara terbatas gereja kristen indonesia anugerah bandung, bersama yohan tirtawijaya, herjagus kurnia, anton jo.

yu sing | short bio 2015

yu sing.



Graduated from Institut Teknologi Bandung in 1999, he then, together with a college friend, established an architecture design studio. Yu Sing has always been actively joining in various architectural competitions, which many of them he won. And since, he got frequently invited to give public lectures, seminars and workshops by architecture colleges in Indonesia.

In 2008, answering his life long search for meanings, Yu Sing established akanoma, an independent architecture design studio that provides affordable designs for the middle and lower income families. He has also continuously been working with young apprentices and students catering the dream of middle-lower income families to have their own architect-designd houses. 
By the year 2009, Yu Sing published ‘Mimpi Rumah Murah’, a book of affordable houses.

Akanoma itself has four main design philosophy:

  1. Put forth architecture for all
  2. Bring traditional architecture forward
  3. Build nature-culture-economy-architecture interdependency
  4. Promote eco-tourism along the locals

17.9.14

enhancing eco-friendly building material in Asia's traditional houses

wawancara yu sing dari studio akanoma dengan yasmin tri aryani dari www.asiagreenbuildings.com

Berikut ini daftar pertanyaannya:
1. Most of your designs are using natural material (wood, bamboo, etc.) which is also widely used in Indonesia’s traditional houses, what makes you choose natural material?

saya sedang mengamati interdependensi antara alam - budaya - arsitektur.

dalam byk kasus..alam terjaga justru krn manusia bergantung, membutuhkan, dan memakai (material) alam. sbg contoh sederhana....kampung adat sunda sampai sekarang masih pakai bambu utk rumah maupun perkakas. maka sampai hari ini bambu masih ditanam luas dan dilestarikan.

sebaliknya...di ambon, sagu sudah tidak lagi jadi makanan pokok, byk pohon sagu masih kecil sudah ditebang, dan kita tdk mendengar lagi bangunan dari kayu sagu. padahal saya temukan data masjid wapauwe di sana dibangun pakai kayu sagu pd tahun 1414

2. In your opinion, are materials in traditional houses could be considered as eco-friendly material? Why?

berhub dg no.1. penggunaan material alam yang ada di sekitar, bukan yang didatangkan dari jauh, membangun hubungan yg kuat antara masyarakat dengan alamnya. material alam energi terkandungnya (embodied energy) sangat rendah. budaya pertukangan masyarakat juga dapat berkembang. pengetahuan ttg material alam pun dapat terjaga

3. From all kind of natural materials you have tried and used in your design, which one do you think the most eco-friendly and why?

yg plg eco friendly itu material alam yg ada di sekitar proyeknya. tdk hanya digunakan..tetapi juga menyediakan lahan di dalam proyek utk menanam material tsb kalau itu dari pohon. energi transportasinya menjadi sangat rendah. hubungan manusia dengan alam sekitarnya menjadi kuat.
karena itu setiap proyek dan lokasi bisa berlainan.
material alam yg didatangkan dr tempat yg sangat jauh menjadi kurang eco friendly...walaupun belum tentu total energinya lebih besar drpd material industri manufaktur besar (yg seringkali juga jauh dr lokasi proyek)

4. With a lot of new synthetic materials which offer a new range of possibility in creating any kind of shape and texture, do you have a special strategy to make your client accept your choice of natural materials? How do you convince them?

dalam banyak contoh, bila sumber daya alam masih memungkinkan/menyediakan, material alam misal kayu, bambu, batu, tanah...dalam jangka panjang seiring usia penggunaan, materialnya semakin berkarakter. kadang malah lebih indah. sebaliknya..material hasil industri manufaktur....semakin lama kualitas dan keindahannya semakin menurun.

karena itu...ketika kita banyak pakai material alam misal kayu, maka saya juga mendesain lahan terbuka di setiap proyek, dan menyarankan klien untuk menanam pohon kayu. sebagai tg jwb moral pribadi mengembalikan ke alam apa yang telah diambil. (memang tdk semua klien menuruti, pada akhirnya tetap klien yg bertg jwb atas lahannya sendiri. walau demikian, ckp byk klien juga yg sedikit demi sedikit semakin menghargai pohon dan menanamnya)

5. Which one do you think the most interesting traditional house of Indonesia that has inspired your design until now? Why?

sy belum tahu banyak. karena indonesia punya banyak sekali varian rumah tradisional. ada lebih dari 400 etnik. tiap etnik bisa berbeda. kadang ada kemiripan. 1 etnik yg sama kadang ada juga bbrp varian rumah tradisional/vernakular. cukup sulit mencari data itu di sini. terutama etnik2 yg kurang dikenal.

tetapi perlahan2 saya mencari tahu mengapa dulu rumah tradisional/vernakular itu dibuat spt itu. bagaimana hubungannya dengan iklim dan cuaca. dengan kondisi alam. dengan sumber daya alam sekitarnya. dengan kepercayaan spiritual masyarakatnya.

lalu saya belajar mengambil pelajaran dari situ. apa yng bisa langsung ditiru. apa yg perlu disesuaikan dgn kondisi masa kini. apa yg bisa diubah dgn inspirasi yg berakar kepada konteks lokal

6. Do you think building material in Asia’s traditional houses should (and could) be applied to the recent house design (regarding to the different way of life, the change of climate, etc.)? Explain your argument.

ya tentu saja. spt telah sy jelaskan sblmnya...masyrkt tdk hanya melihat itu sebagai material. tapi ada hubungan yg kuat dg alam. dlm bbrp kasus byk kepercayaan2 lokal ttg bbrp jenis kayu tertentu tidak boleh dipakai untuk lantai supaya penghuni tidak sering sakit.kayu jati tidak boleh berdekatan dengan kayu kelapa misalnya. saya belum menemukan penjelasan logisnya.
tetapi ini menjelaskan pengamatan dan interaksi yg lama sekali antara manusia dg alamnya. interdepensi ini yg membuat lingkungan hidup masa lalu lbh nyaman. lbh hijau. lbh ekologis. lbh lestari. bisakah kita perlahan2 mengembalikan kelestarian alam tsb sambil mencapai kenyamanan lingk hidup? dlm byk kasus rumah dan karya akanoma yg kami buat, ternyata bisa. walau baru dlm skala mikro.


7. The exploitation of nature has been a significant issue in Indonesia, how do you collect the natural materials for your design? Do you only reuse or recycle the existing material?

selama msh ada material bekas yg bs digunakan kembali, dan klien bisa diajak utk menyukainya, kami selalu menggunakan material bekas. kalaupun ada material alam yg baru misal kayu, msh agak sulit menemukan kayu bersertifikasi di indonesia, maka sy menyarankan klien menanam pohon kayu di lahannya. tidak harus pohon yang sama karena kadang kondisi dan ukuran lahan yg tdk memungkinkan utk pohon2 yg terlalu besar.
kadang juga saya mencari dan memakai jenis2 kayu yg selama ini hanya dipakai sebagai alat bantu konstruksi atau kayu bakar, misal kayu aren atau dolken, dan mencari tahu bagaimana menggunakannya sebagai material utama. atau material kayu atau bambu bekas alat bantu konstruksi di proyek tsb kami gunakan kembali sebagai bagian dari elemen arsitekturnya di proyek itu

8. Are there any significant differences between the application of natural construction materials in Indonesian houses and in other Asian counterparts?
saya rasa secara umum banyak kemiripan kondisi alam dan iklim indonesia dg bagian asia lain walau tdk semua. tapi yg ceritakan di atas adalah prinsip2nya. bukan jenis material tertentu. prinsip2 itu mestinya bisa diuji dan dipraktekkan di banyak tempat. sangat menarik ketika mendengar langsung dari para tukang bagaimana mereka terkejut dengan material2 alam sederhana yg kami pakai, yg dulu sebetulnya mereka juga pernah pakai tapi sudah ditinggalkan sejak beralih terlalu banyak bergantung kepada toko material industri. dan mereka dengan senang ingin menggunakannya juga di rumah mereka di kampungnya kelak. membangun interdependensi alam-budaya (manusia)-arsitektur saya rasa masih akan menjadi proses yang sangat panjang. sudah terlalu banyak kekayaan dan kebaikan alam kita tinggalkan dan lupakan.

http://www.asiagreenbuildings.com/traditional-houses-indonesia-preserving-nature-eco-friendly-building-materials/

18.7.14

rumah menara angin, bsd, tangerang.

Lokasi lahan berada di sudut, dalam perumahan bumi serpong damai yang cukup mewah. Semula kami desain rumahnya seperti terasering sawah. Atas sawah, bawahnya rumah. Idenya dari foto keluarga pemilik lahan dengan pemandangan sawah2. Mereka suka pemandangan dan suasana alam. Namun batal, karena terlalu mahal. Kebutuhan ruangnya ingin sehemat mungkin. Hanya 1 lantai saja. sederhana. tanpa ingin menjadi mewah. bahkan mungkin menjadi antitesa dari kemewahan rumah2 sekitarnya.

Lalu desain direvisi lebih sederhana. Massa tipis memanjang di kedua sisi lahan yang menghadap jalan. Ruang2 berbatasan dengan selasar yang berfungsi sebagai teras terbuka ke arah kebun di dalam. Ventilasi dan cahaya alami menjadi lancar.

Kemudian atap miring di luar dan di dalam beda ketinggian agar menambah ventilasi di antaranya, juga setiap ruangan diberikan menara. Atap menara dari kaca untuk menambah cahaya. Udara panas juga mengalir ke atas melalui puncak menara2 angin. Ruang relatif lebih dingin.

Sejak awal semua ruang termasuk ruang tidur utama tidak dipasang pendingin udara. Hanya ada 1 pendingin udara bekas rumah lama, dipasang di antara 2 kamar anak. Itupun sekarang sudah tidak suka dinyalakan karena rumah sudah cukup adem. Tentu juga lebih sehat dan hemat listrik.

Di pintu depan, ada tambahan massa 2 lantai dari baja menyerupai kontainer. Fungsinya sebagai ruang produksi kue2 kering yang jadi profesi ibu pemilik rumah. Lantai 2 ruang terbuka yang mungkin berkembang menjadi kafe kue. Baja seperti kontainer dipilih karena hemat lahan, bersih, dan tahan berbagai benturan yang mungkin terjadi dalam proses produksi yang bisa cukup sibuk.













































Kebun di dalam rumah dijadikan sawah ladang oleh pemilik. Berbatasan dengan kolam ikan mujair nila yang airnya dapat dipakai untuk siram sawah. Sayangnya ketika hampir panen, sawah diserang wereng dan tikus. maklum belum pengalaman. juga belum/tidak mau bergantung pada obat kimia.

Arsitek: studio akanoma
Tim desain: yu sing, anjar primasetra, mahasiswa magang (lupa namanya)
foto: kristoporus primeloka
kontraktor tidak saya tulis karena setelah cukup lama dan proses yang sangat sulit, tidak dapat menyelesaikan, lalu dilanjutkan sendiri oleh pa seng pemiliknya.
Padalarang, 18 juli 2014
yu sing